Minggu, 28 Oktober 2012

Gawat! Perang Iran vs Israel-AS Bisa Picu Perang Dunia III


LENSAINDONESIA.COM: Panglima Angkatan Udara Pasukan Garda Revolusi Iran, Marsekal Amir Ali Hajizadeh menyatakan, perang antara Iran  melawan Israel dan Amerika Serikat (AS) akan berubah jadi Perang Dunia III.
Petinggi militer Iran dikabarkan sudah mensimulasikan bagaimana menyeret dunia bergabung dalam medan pertempuran
Keyakinan akan terjadinya Perang Dunia III karena sangat berpotensi negara-negara lain akan ikut dalam medan perang, apakah itu  membela Iran atau sebaliknya.
“Pada prinsipnya sulit dibayangkan perang antara Iran dengan rezim Zionis Israel atau Amerika Serikat saja, karena ketika salah satu dari  keduanya terjun, maka pihak lainnya juga akan ikut terjun ke medan perang,” ujar Hajizadeh, dikutip farsnews, Senin (24/09).
Iran melihat Israel dan AS saling berdampingan dan tidak dapat dipungkiri Israelterjun dalam perang itu tanpa dukungan dari AS.
“Ketika perang terjadi, kami akan berhadapan dengan keduanya dan yang pasti kami akan berkonfrontasi dengan pangkalan-pangkalan Amerika Serikat,” tegasnya.
Menyinggung berbagai skenario yang dimiliki Iran jika terjadi perang, Hajizadeh menjelaskan, jika terjadi perang, pangkalan AS di negara-negara sekitar Timur Tengah akan menjadi sasaran dan mereka akan menghadapi ancaman dari warga negara yang  bersangkutan.
“Dapatkah Anda bayangkan apakah mungkin rezim Zionis perang dengan kami namun Amerika Serikat tidak ikut terjun, atau masyarakat di kawasan tidak bangkit melawan Amerika? Perang ini dengan cepat akan membakar seluruh kawasan,” jelasnya.
Hajizadeh juga memastikan Iran tidak bisa menjamin saat perang terjadi, negara-negara di kawasan akan menyatakan netral dan tidak berpihak.
“Kami pasti akan menyerang pangkalan-pangkalan Amerika Serikat karena kami menilainya sebagai bagian dari wilayah Amerika, bukan milik Qatar, Bahrain atau Afghanistan. Pangkalan-pangkalan itu kami anggap sebagai teritori Amerika dan jika perang terjadi, kami pasti akan menyerangnya,” pungkas Hajizadeh

Sumpah Pemuda


Yuk..... Studi ke Jerman

Dikutip dari euromanagemen.com

Belajar di Jerman tidak mahal. Euro Management Indonesia, konsultan pendidikan internasional ke berbagai perguruan tinggi di Eropa, khususnya Jerman dan Perancis, berani membuktikan hal itu. Para orangtua cukup menyerahkan dana sekitar Rp 24,9 juta ke konsultan tersebut, maka satu orang anak kesayangannya sudah bisa menimba ilmu dan pengetahuan di Jerman atau Perancis.

Dana itu untuk biaya administrasi pengurusan studi ke luar negeri seperti konsultasi pemilihan studienkolleg, legalisir dokumen akademik di Kedutaan, pengurusan tes masuk Studienkolleg di Jakarta dan Jerman, pendaftaran ke perguruan tinggi di Jerman atau Perancis, pengurusan passport, pengurusan visa studi dan masih banyak lainnya. Akan tetapi biaya tersebut belum termasuk untuk biaya kursus pendalaman bahasa Jerman atau Perancis sebelum berangkat.

Jika di hitung kuliah di Jerman masih lebih murah dibandingkan belajar di perguruan tinggi favorit di Indonesia, Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Belanda, Jepang, Australia, Singapura, dan Malaysia, dilihat dari segi biaya pendaftaran, semesteran hingga biaya hidup.

Studi di Jerman, sejak taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, tidak dipungut biaya. Kebijakan studi dan berobat gratis itu sebagai kompensasi atas pajak mahal yang dibayar rakyat negara itu yang mencapai 20-30%.

President Director & CEO Euro Management Indonesia Bimo Sasongko, MSEIE, MBA mengatakan para orang tua dan pemuda Indonesia sebaiknya memanfaatkan peluang emas studi di Jerman, yang selama ini di nikmati pemuda asal China dan India.

Apalagi Jerman dan Perancis merupakan salah satu dari tiga negara paling berpengaruh di dunia saat ini di samping Amerika Serikat dan Jepang, katanya menjawab Bisnis di kantornya di Gedung Jaya Lt. 7 Jl MH. Thamrin No.12, Jakarta Pusat.

Kemampuan Bimo mengelola Euro Management Indonesia sejak enam tahun lalu dan telah memfasilitasi keberangkatan 500 pelajar Indonesia untuk melanjutkan studi ke berbagai perguruan tinggi di Jerman dan Prancis itu tidak terlepas dari pengalamannya kuliah di Arizona State University dan North Carolina State University, Amerika Serikat dan Fachhochschule Pforzheim (University of Applied Science), Jerman.

Bahkan, Beliau banyak mendapat apresiasi dari berbagai instansi seperti dari Menteri Luar Negeri RI, Kedutaan Besar Indonesia di Jerman, IFCCI, Ekonid dan Uni-Eropa atas prestasinya memberangkatkan sekitar 100 calon mahasiswa setiap tahunnya ke Jerman dan Perancis.

Titip Matematika-Bahasa Inggris Tak Dihapus



Dua siswi SD pulang sekolah. Foto: Dok.JPNN/JPPhoto
JAKARTA - Menteri Perdagangan Gita Wirjawan secara tugas pokok dan fungsi (tupoksi) memang tidak berkaitan dengan urusan pendidikan. Terlebih soal rencana pemerintah merevisi kurikulum. Namun dia meminta supaya matematika dan bahasa Inggris tidak dihapus di jenjang SD.

Permintaan Gita tersebut disampaikan langsung di depan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh di kongres alumni teknik elektro ITS di Jakarta kemarin (20/10). Permintaan tersebut dia sampaikan karena dua mata pelajaran tadi penting untuk mendukung pencetakan generasi Indonesia yang siap bersaing dengan bangsa-bangsa lain.

"Mumpung belum diputuskan, saya berharap dua mata pelajaran tadi dipertahankan. Terutama matematika," katanya. Menurut Gita, pembangunan Indonesia ke depan 20 tahun sampai 30 tahun nanti tidak bisa dibebankan kepada generasi tua. Tetapi sebaliknya menjadi tanggung jawab generasi muda yang saat ini masih duduk di bangku sekolah.

Selain meminta Kemendikbud mempertimbangkan untuk tidak menghapus dua mata pelajaran tadi, Gita juga menyindir soal sedikitnya jumlah lulusan doktor di Indonesia. Dia mengatakan jika saat ini jumlah doktor di Indonesia hanya sekitar 30 ribu saja.

"Bandingkan dengan Tiongkok dan India yang jumlah doktornya mencapai 300 ribu," katanya. Dengan kondisi ini, dia berharap jumlah doktor di Indonesia pada rentang waktu sepuluh tahun ke depan bisa merangkak naik menjadi minimal 200 ribu. Dia berharap besarnya anggaran pendidikan yang dikucurkan negara, bisa mensukseskan harapan ini.

Setelah mendapat masukan tentang revisi kurikulum tadi, Mendikbud Mohammad Nuh menjadi cukup berhati-hati menjelaskan soal perkembangan program ini. "Sampai sekarang masih dalam pembahasan internal di kementerian," kata dia.

Nuh mengatakan setelah selesai dibahas di internal Kemendikbud akan dikonsultasikan ke Wapres Boediono. Berikutnya juga dikonsultasikan lagi ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Baru setelah itu diuji publik sekitar akhir tahun ini. Dan diharapkan bisa dijalankan secara menyeluruh atau bertahap pada tahun ajaran 2013-2014 pertengahan tahun depan.

"Jika sekarang saya sudah katakan bahasa Inggris dihapus, kemudian IPA dan IPS digabung, takutnya masih prematur. Ya kalau nanti hasil pembahasan internal kami demikian," ucap menteri yan gjuga alumni teknik elektro ITS itu. Nuh hanya mengatakan jika pembahasan revisi kurikulum ini melibatkan banyak pihak, mulai dari ahli budaya, psikologi pendidikan, dan sebagainya.

Menteri asal Surabaya itu hanya mengatakan, posisi mata pelajaran bahasa Inggris di SD saat ini adalah muatan lokal (mulok). Bukan mata pelajaran wajib seperti bahasa Indonesia, matematikan, dan yang lainnya. "Apakah nanti bahasa Inggris itu tetap mulok, atau dihapus, atau jadi mata pelajaran wajib, juga belum ada keputusan," tegas dia. Sedangkan untuk mata pelajaran matematika kecenderungannya tetap dipertahankan seperti saat ini.

Nuh juga menuturkan kepada para pejabat Kemendikbud supaya tidak terlalu berlebihan memberikan pernyatakan kepada masyarakat terkait revisi kurikulum ini. "Sebab itu tadi, pembahasannya saja masih berlangsung," katanya.

Mantan Menkominfo itu lantas meluruskan pandangan masyarakat jika revisi kurikulum ini dijalankan karena banyak kasus tawuran pelajar dan mahasiswa. Serta kasus-kasus penyimpangan lainnya. Nuh menuturkan pendangan ini muncul karena upaya revisi bertepatan momentumnya dengan kajadian-kejadian ini.

Dia menandaskan jika revisi kurikulum ini sudah masuk program rencana program pembangunan jangka menengah (RPJMN) 2010-2014 Kemendikbud. Nuh menegaskan jika revisi kurikulum ini sudah direncanakan sejak dia pertama kali ditunjuk menjadi Mendikbud menggantikan Bambang Sudibyo. (wan

Jumat, 26 Oktober 2012

Harus Berpisah


Luapkan ekspresimu

putih warnamu suci maknamu
putih tulangku tulus hatiku

merah darahmu berani tekadmu
merah warnamu Indonesia

reff
berkibarlah benderaku
di atas langit kuukir namamu
berkibarlah benderaku
merah putih harga mati untukku

angkat tanganmu kibarkan benderamu
merah putih itu harga mati untukmu

merah lambangkan keberanianmu
putih itu lambangkan ketulusanmu
kembali ke reff

Sungguh memprihatinkan

tawuran pelajar.jpg
          Beberapa hari yang lalu, sontak seluruh masyarakat Indonesia terkejut melihat pertikaian antar siswa yang tak bisa terpisahkan. tawuran yang luar biasa tanpa bisa dilerai dan luapan emosi saja yang mungkin ada di benak mereka, lalu,muncul pertanyaan"siapakah yang bersalah?"  mari kita berpikir dan tidak arogan dalam memandang masalah ini.
          Tawuran yang terjadi beberapa hari kemarin memunculkan beberapa argumen, persepsi dan spekulasi baik dari pengamat, politisi, ataupun beberapa masyarakat yang mempertanyakan dimana kredibilitas pendidikan dan eksistensi pendidikan dalam membangun pemuda harapan bangsa ini. 

"Tawuran" inilah kata yang sangat luas dibicarakan saat ini. Tawuran bukanlah hal baru bagi siswa bahkan siswi sekalipun. Tawuran terjadi bukan karena kesalahan kebijakan ataupun kredibilitas serta eksistensi pendidikan tetapi lebih ke arah ketidak kondusifan lingkungan tempat mereka tinggal. Yang perlu diperhatikan adalah kestabilan mental sangat rentan dipengaruhi oleh lngkungan. Lingkungan menjadi dominasi penentu arah dan tujuan serta pola pikir siswa dan siswi sehingga Tawuran yang terjadi kemarin bisa dikatakan disebabkan oleh ketidakkondusifan jakarta.

Membangun karakter siswa dengan rung lingkup seperti jakarta sangatlah sulit karena di situlah terjadi peleburan multi karakter. Keras begitulah kehidupan di jakarta dan memaksa rakyat jakarta untuk selalu berjuang mencari hidup dan hal ini pasti berdampak pada sistem dan pola berpikir. selain itu, orang tua yang merupakan pengisi dari "lingkungan" juga bertanggung jawab dalam tawuran ini pasalnya para orang tua tidak ofensif dalam memperhatikan anaknya. "Kebebasan" mungkin kata inilah yang pantas di lingkungan Jakarta dengan segelumit permasalahannya . kebebasan inilah pula yang menyebabkan merosotnya moral dan mental pemuda Indonesia. Jika kebebasan sudah mengakar dalam pikiran maka takkan ada yang bisa menghentikan termasuk pendidikan sekalipun sehingga dirasa perlu orang tua menjaga dan mendidik serta menasihati anak-anaknya sejak dini sehingga permasalahan tawuran ini bisa diatasi sejak dini.

Dari saat ini, hentikan saling menyalahkan masih banyak yang harus dilakukan. yang harus dilakukan saat ini adalah berupaya untuk meminimalisir terjadinya tawuran ini kembali melalui pemberdayaan pemuda sehingga terbentuk kekokohan moral yang menjadi tanggung jawab semua pihak bukan hanya tanggung jawab pemerintah terkait tetapi tanggung jawab kita semua